<< December 2018 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

This is a Flickr badge showing public photos from artha_tatha. Make your own badge here.

My Friends' Blogs:

Basuki E.P. (Aalborg)
Dessy (Den Haag)
Dydy (Pennsylvania)
Echie (Singapore)
Iche Frazana (Jakarta)
Ime' (Jakarta)
Indres (London)
Indres' Books n Movies
Inga (Jakarta)
Muhy (Enschede)
Okta (Jakarta)
Vivi (Eindhoven)
Wisnu (Tokyo)

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

rss feed

Thursday, September 16, 2010
Start A Clothing Business

It's been not-so-busy-days in the office, during the holiday season of Ramadhan. So I have a little time to do surfing on references on fashion apparel business. Are there any books? Or case study on fashion retailers in Indonesia?  Who knows I can afford it someday? Wink

I found this article, taken from the site: How to Start A Clothing Store.

Are you fashion forward? Do you love working with the public? Then it might just be time for you to marry your fashion sense and your business sense with a retail clothing business.

We'll presume that your desire to open an apparel store isn't because you want to prove to your ex that you're actually hip and happening, or that you're so confident of your style that you need to share that good taste with the community. We'll instead presume that you have an acute business sense, a sincere interest in the clothing business and more than a little cash in the bank.

Opening an apparel store is serious business. For some of you, it may mean giving up the safety of your corporate job with its steady income, paid holidays, vacations, and the opportunity for advancement. All this, and guaranteed 12- to 14-hour days. "Running an apparel store is more than a full-time job," stresses Nancy Stanforth, professor of merchandising at Oklahoma State University. "Running an apparel store is something you do all day every day."

Always Room For More
Fortunately, there's always room for the right kind of apparel store. Although you might not guess it by the number of malls and outlet centers cropping up, we're mostly a nation of small, independent merchants. In fact, most retail stores, and that includes apparel stores, are small, both in size and in sales volume, compared to a Gap or Old Navy. The typical apparel store is a small operation, usually run by the owner alone or by a husband-and-wife team.

Here is a handy set of questions that will help you determine whether fashion is indeed your forte.

1. Is this a business in which you have experience? Maybe you've taken those merchandising classes; maybe you've watched your father, mother or grandparents run a business; maybe you spent a summer selling makeup over the counter at Macy's. In any case, your experience and business sense are as important as your interest in clothes.

2. Can you live with the inherent risk in the apparel business? This isn't meant to scare you; we're only trying to present a balanced picture. If you're serious about opening an apparel store, you need to know that, like the restaurant business, the apparel business is risky. You may pour your life savings into a business that goes bust within a year.

"Nothing is sure-fire, and there are risks attached to starting any kind of business," says Fred Derring, president and owner of D.L.S. Outfitters, a New York City-based apparel marketing and consulting company, "but you've really got to love the clothing business because you can make more money doing almost anything else. Even in the restaurant business--if you're successful--you can make more money in five years than you can in 15 years in the apparel business."

3. Do you believe strongly in the apparel industry? On a serious note, you really need to think about why you've decided to open an apparel store vs. a homeopathic pharmacy or an organic grocery store. Whatever your particular fashion passion, it has to be enough to carry you through the yearly holiday rushes as well as the slow summer lulls. It's like marriage: When times get tough, you need to remember why you took those vows in the first place.

4. Is your niche overcrowded or dominated by a few? It doesn't take a Ph.D. to see that the apparel industry is crowded. All you need to do is save all those catalogs stuffed in your mailbox or visit your local mall on the weekend. But there always seems to be room for more, particularly if you're offering consumers something they feel they're lacking.

5. Can you become a specialist? If you're opening an apparel store for the right reasons, you probably think you've got the corner on something someone else in your professional community doesn't. Maybe it's surf clothes; maybe it's chic plus-size fashions; maybe it's leather and jewelry imported from Turkey.

Specializing, or finding your niche in this business, is crucial to your success. And in many cases, all it takes is a little common sense. As Kira Danus, a buyer from D.L.S. Outfitters in New York City, says, "No apparel store should be stocking twill khaki shorts if there's a Gap within 10 miles."

6. Do you have a competitive advantage? In a word, this is called "marketing." For now, hear this collective quote culled from every apparel entrepreneur interviewed for this business guide: "Today the competition isn't two doors down the block; it's at the local mall. People can get everything we sell at their local mall, so we have to set ourselves apart other ways. Pay attention to the demographics in your area, to the location and available foot traffic, to television and movies and what people are wearing on the street."

Posted at 05:24 pm by artha-s-a
Add a comment?  

Wednesday, January 06, 2010
Menganggarkan Bantuan Sosial

Berikut tips yang sederhana dan praktis, tapi cukup menyentil saat aku dengar di radio dan membacanya dari web. 

Dikutip dan disarikan dari:

Ligwina Poerwo Hananto
CEO Quantum Magna Financial
Independent Financial Planner

Kata kunci disini adalah 'mampu'. Ketika Anda dalam kondisi keuangan yang sehat, Anda akan mampu untuk terus menerus memberikan bantuan. Ketika Anda dalam kondisi keuangan yang mapan, Anda akan mampu untuk terus menerus meringankan beban orang lain. Tentunya untuk dapat membantu orang lain terlebih dahulu Anda dapat memenuhi kebutuhan sendiri dulu. Sumbangan sosial adalah salah satu pengeluaran rutin kita. Maka jika kita ingin dapat secara konsisten membantu sesama, kita perlu mengelola bantuan sosial dengan baik.

  1. Anggaran Pengeluaran Sosial

Pengeluaran bulanan kita terbagi menjadi empat bagian. Yakni investasi bulanan, cicilan bulanan, pengeluaran rutin, dan pengeluaran lifestyle. Pengeluaran sosial ini masuk sebagai salah satu pengeluaran rutin.

            Seperti juga pengeluaran-pengeluaran lain, kita perlu menyusun besarnya anggaran yang ditentukan dalam pengeluaran sosial ini. Ada berbagai sebutan untuk sumbangan sosial ini. Bagi Anda yang muslim tentu mengenal zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Karena itu besarnya sumbangan sosial ditentukan dengan ketentuan yang berlaku. Bagi Anda yang non muslim tentu ada sebutan lain sesuai dengan kepercayaan yang berlaku. Tentukanlah besarnya pengeluaran sosial ini pada saat menyusun anggaran bulanan. Dengan demikian Anda juga dapat leluasa menyusun pengeluaran-pengeluaran lain tanpa tertinggal bersedekah.

  1. Teknis Pelaksanaan

Ada dua teknis pelaksanaan saat membayar pengeluaran sosial ini. Pertama, langsung membayarkannya setiap bulan. Misalnya setiap bulan Anda menerima gaji sepuluh juta rupiah. Anda langsung memotong 2,5% sebagai zakat dan memberikannya pada badan amil zakat terdekat. Cara kedua dengan mengumpulkan dulu dana pada rekening terpisah. Jika ada sanak saudara yang membutuhkan bantuan, Anda tinggal mengambil dari pundi ini. Dengan cara ini, Anda dapat memenuhi tanggung jawab mengurusi keluarga inti dan memberikan bantuan pada keluarga sesuai dengan kemampuan.

  1. Pengeluaran Sosial Ekstra

Sekarang, bencana datang bertubi-tubi, bagaimana cara agar kita terus memiliki dana agar dapat membantu? Tips pertama dan kedua sangat membantu Anda untuk menumbuhkan kebiasaan membantu sesama. Tanpa disuruh lagi Anda sudah memotong gaji Anda dan menyetorkannya ke badan-badan resmi. Anda juga sudah memiliki dana standby untuk membantu setiap saat.

Tip ketiga hanya membutuhkan sedikit saja pengorbanan. Anda hanya perlu memperhatikan pengeluaran aneh yang Anda lakukan sehari-hari. Perhatikan berapa besar pengeluaran itu dan bayangkan apa yang dapat Anda lakukan dengan uang tersebut. Ini sebuah kampanye yang pernah dilakukan pengguna komunitas pengguna Twitter dan Indonesia Unite. Kami menggalang dana untuk mengirimkan air minum ke Sumatera Barat. Pendekatan yang kami gunakan dengan membandingkan betapa uang sebesar Rp. 30.000 yang biasa kita gunakan untuk membeli secangkir kopi dapat digunakan untuk membeli 30 liter air minum. Kita bahkan tak perlu memboikot kedai kopi favorit, tapi cuma perlu mengurangi jatah minum kopi sekali saja. Hasilnya sungguh luar biasa.

Ternyata ada banyak cara untuk kita dapat membantu. Mampu untuk dapat membantu saudara-saudara kita yang sedang menghadapi cobaan dan kesulitan. Percayalah bahwa apa yang sedang kita lakukan akan dapat memberi manfaat begitu luas. Dan jika saja kita mampu maka kita akan dapat konsisten memberikan bantuan secara terus menerus.

Finance should be practical.

Posted at 06:03 pm by artha-s-a

Monday, January 04, 2010
Rindu Ka'bah

Ya Allah,

Hati ini rindu untuk segera mengunjungi lagi rumahMu, tanah suciMu.

Hati ini rindu untuk menyisihkan waktu hanya untuk bertasbih, beribadah, dan memohon ijabah dari Engkau.

Mohon cukupkanlah rejekiku, sehatkanlah aku, dan ringankanlah langkahku sehingga tahun ini aku bisa berkunjung lagi kesana. Semoga kali ini lebih khusuk dan membawa berkah. Amiin Ya Illahi, amiin :-|

Posted at 01:47 am by artha-s-a
Add a comment?  

Monday, June 22, 2009
Catatan Kecil Selama Sembilan Hari Dirawat di Rumah Sakit

Dari tanggal 9 sampai 18 Juni 2009 kemarin, aku diopname di RS Siloam Kebon Jeruk. Sebelumnya sudah berobat jalan karena maag, tapi ternyata seminggu kemudian harus masuk rumah sakit. Diagnosanya adalah infeksi usus (gastroduodenitis?). Gak nyangka, ternyata bakal lama, 9 hari bo' , di RS. Kirain paling lama seminggu. Penyebab lamanya antara lain karena suhu tubuhku tidak stabil. Diperkirakan infeksi masih berlangsung.

Cerita pahitnya adalah, aku jenuh berat tidak bisa jalan-jalan bahkan di sekitar RS, karena diinfus terus. Dan infusnya pun sampai empat kali ganti suntikan. Lusinan infusan, suntikan obat, vitamin, dan antibiotik (agak-agak lebay yaa..). And the food were so plain, it was awful since I had to follow strict dietaries rule.

Ada yang sedikit menarik selama dirawat. Berhubung cuma beristirahat aja, bed rest, aku selain baca-baca buku juga jadi rajin nonton TV. Selain yang rutin chanel Discovery Travel and Living dan saluran-saluran berita, aku jadi rajin nonton back-to-back episodes dari serial Friends dan The Nanny, tayangan infotainment plus reality show-reality show dari stasiun-stasiun lokal. Walopun berita tentang Manohara Odelia sudah heboh dari 1-2 bulan sebelumnya, aku baru di RS itu tuh lihat langsung (via TV maksudnya) seperti apa sih Manohara itu. Sampai terakhir yang bikin heboh lagi adalah berita Cici Paramida yang dibohongin (lagi) ama suaminya. Hmm ada-ada aja…Btw, jadi ikutan emosi tuh nontonnya dan bersimpati pada Cici Big Smile.

Terus aku juga sempat lihat satu-dua kali tayangan-tayangan seperti Duit Kaget, Bedah Rumah, Tukar Nasib, etc, yang menurut review-review yang pernah aku baca lebih berniat untuk mengkomersilkan derita kemiskinan ketimbang mencari solusi dari kemiskinan itu sendiri. Juga ada reality show seperti Termehek-Mehek dan Masihkah Kau Mencintaiku yang aku agak ragu, benarkah itu semua kisah nyata?

Jujur, aku jadi tertarik dengan acara Masihkah Kau Mencintaiku, dan aku sempat dua episode mengikuti sampai habis. Sebelumnya sudah pernah mendengar bahwa acara ini cukup banyak peminatnya. Seperti pada episode "Aku Dipisahkan dari Anak dan Istriku". Intinya dua belah pihak keluarga yang bertikai dipertemukan (wajah mereka semua ditutupi topeng ala Zorro). Ada sepasang suami istri yang berasal dari dua keluarga yang berbeda strata sosial sangat jauh. Sang suami seorang yatim dan dibesarkan oleh ibunya yang cuma seorang pedagang sayur miskin di kampung sementara sang istri anak seorang pengusaha kaya pemilik beberapa perusahaan. Sang suami, sebut saja hmm siapa yah, lupa, Romi aja kali yaa.., seorang yang pintar, lulusan terbaik waktu Sarjana dan diterima sebagai PNS di Jakarta. Sang istri, kalau tidak salah namanya Retno, merasa yakin dg pilihannya terhadap suaminya itu. Romi berulangkali dikatakan nekad oleh pembawa acara, Helmy Yahya, karena menikahi Retno yang cantik, kaya, dan jauh tingkat sosial-ekonominya. Bapak dari Retno tidak memasalahkan pilihan anaknya dan menerima dengan baik lamaran Romi. Tidak demikian dengan si Ibu dari Retno. Bahkan setelah tujuh tahun pernikahan mereka dan dikaruniai anak. Ibu Retno selalu mengomeli Romi dan memaksa Romi untuk mencari pekerjaan sampingan selain sebagai PNS. Ibu dan kakak Retno selalu menghalangi Retno jika diajak Romi untuk pindah ke rumah kontrakan kecil dengan alasan Romi tidak mungkin akan menyejahterakan anak dan istrinya. Di sini, gue ikutan emosi, lah kan sudah nikah, setuju membangun bahtera rumah tangga, walaupun kakak-adik dan orangtua tidak berhak ikut campur lagi selain memberikan saran!

Kata-kata yang dilontarkan ibu Retno sangat mencengangkan, rasanya sangat kasar, tidak masuk akal, dan seperti tidak beriman. Masak sih hari gini masih ada yang berpikir sedemikian picik seperti itu, atau apakah gue yang terlalu naif ya?

Contoh kalimat-kalimat kasar yang dilontarkan ibu Retno:

  • Berapa sih gaji PNS itu?
  • Kamu nyadar dong! Kita ini kan keluarga kaya!
  • Kasih aja tuh ibu kamu yang miskin sembako-sembako jatah PNS kamu itu, kita gak butuh kok. (Saat itu si besan ibu sombong ini cuma menangis tersedu-sedu dan berulangkali berkata, iya, iya saya cuma seorang miskin…),
  • dll, dsb…

Singkat cerita, pada akhirnya ayah Retno berkata di hadapan pemirsa dan keluarganya, bahwa ia muak dengan sikap istri dan anak perempuannya (kakak Retno) dan bahwa ia akan mewariskan perusahaannya kepada Retno dan suaminya. Hah! Sedramatis itu ya?! Sementara ibu dan kakak Retno menangis-nangis memeluk ayah Retno. Hal ini jelas mengharu-birukan pemirsa, termasuk aku.

Aku harus mengakui ada banyak juga hal yang bisa dipelajari dari kisah ini. Mengenai cinta, berkeluarga, dedikasi, komitmen, keadilan Illahi, dll. Yang masih tertinggal di benakku adalah, benarkah kisah seperti ini kisah nyata dengan pemeran-pemeran yang juga nyata? Kalau iya benar, wah, ternyata banyak juga yah kisah-kisah yang rasanya aneh tapi nyata, juga beragam karakter yang ajaib.

Ada lagi sedikit hikmah yang bisa aku ambil dari tayangan-tayangan reality show dan infotainment, diluar efek-efek negatif yang disinyalir banyak orang, bahwa jangan selalu melihat ke atas, masih banyak yang lebih kurang beruntung dari kita hidupnya, bahkan untuk seorang artis seperti Cici Paramida!

Ah, sudah dulu yah catatan kecilku  kali ini, panjang ternyata. Tumben nih nulis segini banyak, habis aku agak-agak puyeng juga dengan kerjaan kantor hari ini dimana setumpuk email sudah menanti setelah ditinggal dua minggu. Bingung, mau memprioritaskan yang mana dulu, jadinya malah nyempet-nyempetin nge-blog.

Posted at 08:19 pm by artha-s-a

Tuesday, March 17, 2009

Kamu laksana sebuah lukisan indah yang tergantung di sebuah sudut di bilik hatiku.

Tapi akankah kamu akan turut mengalir bersama darahku, melewati jantungku, setiap pembuluh darahku, nadiku,…

Hingga meneguhkan nafasku, memberi binar pada mataku, mengguratkan senyum pada bibirku, membuat tanganku menari-nari dan kakiku melangkah riang?

Posted at 08:26 pm by artha-s-a

Tuesday, March 03, 2009

One question came accross my mind:
"Is love  a gift from God, or is it something that has to be fight for?"

I have no idea whether somebody could answer it nor the answer will be right or wrong...

Posted at 01:41 am by artha-s-a

Monday, February 23, 2009
Weekly Meeting

Tomorrow there will be my first Sales Meeting with our new Operation Manager after the reorganization in our Segment.

Looking forward to his explanation on our responsibilities, the sales process between the Account Managers and Technical Sales, and our target within this year.

P.S.  Well.. I am working on my own personal development target too within this year, ^_~, wink...

Posted at 06:05 pm by artha-s-a

Monday, January 05, 2009
Luna by Alessandro Safina

Luna tu
Quanti sono i canti che hai ascoltato gia
Desideri che attraverso i secoli
Han solcato il cielo per raggiungerti
Porto per poeti che non scrivono
E che il loro sennospesso perdono
Tu accogli i sospiri di chi spasima
E regali un sogno ad ogni anima
Luna che mi guardi adesso ascoltami

Only you can hear my soul, only you can hear my soul

Luna tu
Che conosci il tempo delléternita
E il sentiero stretto della verita
Fa piu luce dentro questo Cuore mio
Questo cuore d'uomo che non sa, non sa

Che l'amore puo nascondere il dolore
Come un fuoco ti puo brucaire l'amima

Only you can hear my soul, only you can hear my soul

Luna tu
Tu rischiari il cielo e la sua immensita
E ci mostri solo la meta che vuoi
Come poi facciama quasi sempre noi
Angeli di creta che non volano
Anime di carta che si incendiano
Couri come foglie che poi cadono
Sogni fatti d'aria che svaniscono
Figli della terra e figli tuoi che sai

Che l'amore puo nascondere il dolore
Che l'amore puo nascondere il dolore

Come un fuoco ti puo brucaire l'amima
Come un fuoco ti puo brucaire l'amima
Come un fuoco ti puo brucaire l'amima

Alba lux, diva mea, diva es silentissima

Ma e con l'amore che respira il nostro cuore
E la forza che tutto muove e illumina

Choeur: Only you can hear my soul, only you can hear my soul

Alba lux, diva mea, diva es silentissima

Posted at 03:50 pm by artha-s-a
Add a comment?  

Next Page